Warga Pantangan Makan Ikan Lele
Desa Pergam, salah satu desa di Kecamatan Airgegas Kabupaten Bangka Selatan kaya akan budaya dan wisatanya. Desa dengan jarak tempuh 25 menit dari Toboali atau sekitar 1,5 jam dari Pangkalpinang ini, memiliki sejumlah peninggalan sejarah mulai dari keris, meriam serta gong yang tersimpan di rumah-rumah warga.
Kepala Desa Pergam, Sukardi mengungkapkan, pihaknya berencana membangun museum mini untuk mengumpulkan benda-benda bersejarah tersebut di satu tempat. Hal ini bertujuan untuk menjadikan benda bersejarah tersebut pada satu tempat, sehingga mempermudah untuk dilihat masyarakat banyak.
“Agar masyarakat kita tahu bahwa banyak peninggalan sejarah di Desa
Pergam. Memang ada rencana kita, peninggalan bersejarah itu dibuatkan
satu tempat semacam museum mini,” kata Sukardi didampingi Sekdes Sapli
kepada wartawan Rabu (19/4/2017).
Desa Pergam juga mempunyai cerita yang unik yakni warganya berpantangan
memakan ikan lele. Pantangan ini adalah semacam penghormatan karena
melalui ikan lele lah warga dulunya mendapatkan mata air di kala musim
kemarau panjang.
Kades Pergam menceritakan sekitar abad ke-17 lalu, wilayah tersebut dilanda kemarau panjang. Warga mencari sumber air dan sangat sulit ditemukan. Setelah sekian lama mencari akhirnya warga tadi mendengar suara air.
Kades Pergam menceritakan sekitar abad ke-17 lalu, wilayah tersebut dilanda kemarau panjang. Warga mencari sumber air dan sangat sulit ditemukan. Setelah sekian lama mencari akhirnya warga tadi mendengar suara air.
“Setelah lokasi yang terdengar suara air tadi digali ditemukan ikan
lele, dan wargapun tidak kekurangan air lagi, dan sebagai bentuk
penghormatannya, kita warga Desa Pergam tidak memakan lele, dan jika
dimakan akan kena gatal-gatal,” jelas Sukardi.
Pantangan makan ikan lele tersebut selama 7 turunan berlanjut. “Jika
dihitung 7 turunan, maka tahun 2017 ini sudah habis masanya, dan menurut
cerita lelenya juga ikan lele putih, bukan lele hitam,” terang Sapli.
Selain itu, Sapli menerangkan tentang asal usul nama Desa Pergam
berawal dari seorang warga Sumatera A Gani pada zaman kerajaan dulu
bersama rombongan merantau ke tanah desa. Dalam perjalanan pada pagi
harinya mereka mendengar suara burung Pergam yang akhirnya dinamakan
Desa Pergam.
“Makamnya masih terawat di sini, dan banyak warga yang berziarah ke
sana yang kita namanya Makam Akek Seberang,” pungkas Sapli.(raw/3)
Komentar
Posting Komentar